6.29.2006

Re: PNS=Koruptor Sejati

Berikut adalah klarifikasi dari Kepala Biro Kemahasiswaan ITB, Djadji Satira. Masalah yang muncul dari blog diselesaikan di blog juga. Klarifikasi ini dihadirkan to cover both-side of the problem. Di luar itu, pengasuh dan kontributor blog mohon maaf apabila ada pihak yang merasa tersinggung atau merasa mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari posting yang dirilis di blog ini. Sambil berusaha memperbaiki etika penulisan dan pengutamaan fakta, pengasuh dan kontributor blog mengajak semua pihak untuk memahami hakekat blog sebagai media tidak resmi dalam penyampaian informasi maupun pendapat. Terimakasih.



Asallammu Alakum Wr Wb.

Semoga berita ini dapat menyadarkan pihak-pihak yang terkait.
Saya yang tidak berpredikat (Dosen), sangat sedih dan prihatin membaca
opini mahasiswa di (Kantor Berita ITB)? kabarnya masuk juga ke milis
Dosen.

Soalnya adalah (sebagai mahasiswa)SITH d/h Panitia Bio Expo telah merilis
berita yang menurut saya sangat tidak pantas melibatkan Mr. J untuk PNS =
Koruptor Sejati.

Dalam kasus dengan PNS (Dirjen Industri Agro dan Kimia Deperin) mestinya
Panitia Bio Expo berterima kasih kepada Mr. J (Penulis adalah : Jaji S.
Satira, Ka. Biro Kemahasiswaan) yang menjelang magrib saat itu, Panitia
nampak panik karena persoalan kuitansi dengan PNS tersebut tidak cepat
selesai, bahkan saya menangkap kesan (2 pihak sesama batak tidak ada yang
mau mengalah) lantas Panitia mau minta tolong WRM untuk memberi bantuan
penyelesaiannya. Saya sendiri Kepala Biro Kemahasiswaan (Apakah sesuai dg
Mr. J yang dimaksud) Pemegang mandat atas kewenangan WRM untuk membantu
menyelesaikan masalah mahasiswa (Panitia Bio Expo dengan PNS Deperin
tadi).

Kwitansi yang dipermasalahkan adalah biaya 2 stand pameran @ Rp 3 juta,
untuk kepentingan pertanggungjawaban uang DIP (di kantornya) sudah saya
selesaikan dengan cara yang sesuai dengan aturan petanggungjawaban yang
diminta.
Di depan saya, saat itu kedua belah pihak merasa tuntas permasalahannya,
dan beres, namun belakangan ini di milis (Kantor Berita ITB), muncul
nilai uang Rp 22 juta, yang sama sekali saat itu tidak disinggung saat
itu.

Saya (Mr. J...?) Kepala Biro Kemahasiswaan yang menuntaskannya sama sekali
tidak menangkap isyarat baik dari Panitia Bio Expo maupun PNS Deperin tsb
tentang sejumlah uang (22 juta atau 19 juta)

Berita tersebut berkonotasi dan Tendensius, karena mengarahkan pada
presepsi orang bahwa Mr. J, turut bersekongkol (merampok uang mahasiswa ?)

Rasanya saya masih memiliki hati nurani, apalagi keterlibatan saya disitu
karena mendapat tugas dari WRM untuk menuntaskan masalah. soal seperti
itu masalah kecil, tapi yang dirilis oleh seorang Intelektual, dan di
lingkungan inteletual harus diluruskan, (ini menyangkut nama baik)jangan
sampai wahana dengan teknologi ini hanya diisi oleh info dan gosip
murahan.

Setidaknya, Panitia Bio Expo melalui (Kantor Berita ITB) dan milis dosen
dapat meminta maaf kepada(Mr. J yang dimaksud) yang merasa di fitnah. Anda
keji.

Billahi taofiq wal hidayah
Wassalammualaikum wr. wb.
(Djadji S Satira /Kepala Biro Kemahasiswaan)

6.28.2006

KLARIFIKASI

Dengan ini saya selaku penulis tulisan berjudul "Kuis Edisi Spesial" memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan penempatan tulisan tersebut. Tulisan tersebut sebenarnya merupakan tulisan opini, bukan berita. Saya menulisnya berdasarkan keterangan dari pihak ketiga. Tulisan pada dua alinea terakhir pun merupakan asumsi semata.
Berita yang benar ialah sebuah instansi pemerintah telah melakukan mark-up dana stand BioExpo. Keterangan-keterangan dari para saksi mata telah diklarifikasi dan hal tersebut telah dibenarkan. Adapun,eterlibatan pihak ITB dalam hal ini sebagai penengah permasalahan. Pihak ITB telah membantu mentuntaskan permasalahan.
Saya meminta maaf kepada seluruh pihak-pihak yang terkait. Semuanya bersumber atas keteledoran dan kekhilafan pribadi penulis.


-Ireng-

Forsil Edisi Spesial : OSKM, Apalah Arti Sebuah Nama,,,??

Salah satu forum yang akrab di kemahasiswaan ITB adalah Forum Silaturahmi (Forsil). Forum ini dihadiri oleh Himpunan-himpunan yang ada di ITB . Tujuannya? Sejauh ini ya saling berbagi cerita. Bisa soal masalah atau kejadian aktual di himpunan masing-masing, atau maaslah yang sedag hangat di kampus.

Forsil edisi kali ini, edisi Senin 27 Juni 2006, membahas tentang Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa. Yang satang cukup banyak. Hanya satu Himpunan yang berhalangan hadir, dan salah satu "Bapak" kita, Bapa Djaji, ikut hadir dalam Forsil ini. Spesial bukan?

Salah satu masalah yang dibahas di Forsil ini, yang penulis rasa cukup menarik untuk ditulis. adalah mengenai permintaan penggantian nama OSKM dari pihak rektorat. Mengapa menarik? Pak Djaji mengemukakan alasan bahwa kata "OS" sudah memiliki konotasi yang sangat negative. Sama seperti orang tua yang memberikan nama tertentu dengan harapan anaknya akan sebaik namanya, demikian juga dengan OS. Bila diberi nama lain yang tidak mengandung "OS", tentu diharapkan hasilnya lebih baik, sebaik nama barunya. Nama baru yang dimaksud beliau adalah Pengenalan Satuan Akademik dan Organisasi Kemahasiswaan (PSA-OK, penulis lebih suka menyebutnya pe-es-a-o-ke ). Beliau mengakui bahwa alasan ini tidak ada dasar ilmiahnya, namun demikianlah kondisi masyarakat sekarang. Alasan lain yang dipakai adalah bahwa orientasi itu dilakukan sebelum masuk ke ITB. Kalau sudah masuk, ya orientasi ini tidak perlu lagi.

Sebenarnya ada alasan lain yang lebih ilmiah, walau belum cukup kuat, untuk mengganti nama OSKM ini. Tapi bila alasan ini yang ditekankan, rasanya terlihat lebih "indah". Seranglah OSKM berdasarkan pengertian katanya. Sebenarnya sudah digunakan oleh rektorat dengan kata orientasi, tapi sayang tidak tepat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, orientasi adalah peninjauan utnuk menentukan mana yang baik dan yang buruk. Kalau dilihat dari pengertian ini, OSKM sah-sah saja. Ketika sudah masuk kampus, peninjauan diperlukan. Bukan hanya peninjauan harga kamar kos atau jurusan, tapi juga jenis-jenis "pergaulan" di kampusyang bisa terlihat di OSKM. Selain itu, di KBBI tidak ada pengertian bahwa orientasi harus diakhiri dengan memilih, melainkan menilai. Jadi kalau sudah masuk ITB, orientasi masih sah dilakukan.

Celakanya, di belakang kata orientasi pada OSKM, ada kata studi. Menurut KBBI, studi adalah kegiatan belajar ilmiah. "Orientasi studi tidak perlu dilakukan lagi bila sudah diterima di ITB" akan menjadi pernyataan benar bila studi di sini diartikan sebagai kegiatan belajar mengajar di kelas. Namun bila ditelaah lagi, kata studi memiliki arti yang lebih dari itu, tergantung konteksnya. Studi memang berbau ilmiah, tetapi apakah semua yang ilmiah harus melulu ada di dalam kelas? Apakah studi tidak mencakup pembelajaran mengenai ilmu-ilmu kehidupan yang didapat dari unit atau himpunan? Bisa ya dan tidak tergantung referensi masing-masing pihak.

Namun, karena alasan yang diktekankan Pak Djaj adalah asumsi orang luar akan kata OSKM, maka banya celah yang dapat diapkai untuk menumbangkan permintaan ini. Di Forsil ini, semua celah dipakai oleh beberapa orang. Masyarakat mana yang memberi kesan negatif pada OSKM? Orang tua mahasiswakah? Kenyataannya, ketua IOM setuju dengan acara penyambutan mahasiswa baru. Atau ini hanya asumsi saja? Lagipula, apakah semua orang mengerti apa itu OSKM? OSKM sepertinya hanya dipakai di ITB karena setiap perguruan tinggi memiliki nama khas untuk OS nya masing-masing. Apakah pergantian nama ini akan memberikan dampak yang sangat signifikan? Kalau memang konotasinya jelek karena kasus-kasus terdahulu, kenapa tidak diputihkan saja?Undang media massa untuk menyaksikan OSKM ITB sebagai bukti bahwa kesan negatif itu tidak benar.

Masih banyak argumen-argumen lain yang dikeluarkan oleh mahasiswa. Pak Djaji sendiri tetap menekankan masalah image sebagai alasan utama penggantian nama. Beliau juga memohon pada peserta forum malam itu untuk tidak menekan beliau untuk "menjanjikan" sesuatu malam itu karena situasinya tidak tepat. Terlepas dari itu, sebelum namaOSKM diganti, nampaknya sulit mengharapkan kelegalan dari rektorat.

Penulis yakin, baik rektorat maupun mahasiswa adalah sama inteleknya. Jadi bila salah satu dapat menjabarkan alasan masing-masing secara jelas dan bukan hanya sekedar asumsi, tentu keduanya harus mau menerima. Permintaan penggantian nama OSKM sangat relevan bila alasan yang diberikan mencerdaskan mahasiswa. Mahasiswa juga berhak mempertahankan nama OSKM bila ada argumen dan komitmen yang diberikan memajukan dunia kemahasiswaan ITB sendiri. Kunci penyelesaiannya? Sama-sama belajar dan menghargai.

Gita

6.27.2006

Verifikasi Fungsi Blog Ini

http://kantorberitaitb.blogspot.com adalah URL blog Kantor Berita ITB. Segala posting yang di-publish di sini bukan tanggung jawab ITB sebagai institusi pendidikan di Indonesia, melainkan opini-opini pribadi dari para kontributornya. Tidak ada satu posting pun yang menjadi berita valid tentang ITB. Sumber berita ITB yang terpercaya hanya ada di www.itb.ac.id.

Bagaimanapun juga, blog adalah sarana dan media untuk berekspresi dan mengeluarkan pendapat. Adakalanya suatu informasi dapat menjadi konsumsi publik, tetapi tidak wajar disampaikan melalui official website. Inilah fungsi blog ini. Blog ini ada sebagai sarana berbagi informasi. Hak untuk memberi dan mendapatkan informasi adalah hak asasi semua orang.

Adapun terkait dengan posting terakhir yang sempat memicu gejolak, dalam waktu singkat klarifikasi dari pihak-pihak terkait akan di-publish di sini. Terima kasih.

6.23.2006

Kuis Edisi Spesial

Korupsi bukanlah hal yang asing lagi di negara kita. Bahkan sepertinya bukanlah hal yang tabu untuk mempraktikan hal ini di dunia kemahasiswaan. Teman-teman kita dari Nymphaea sudah merasakannya. Uang pembayaran stand pameran BioExpo bikinan Himpunan Biologi SITH ITB contohnya, berhasil “dibajak”juga.

Dengan prosedur resmi, mendatangi departemen terkait, mengajukan proposal, Nymphaeae berhasil mendapatkan dana untuk stand sebesar 3 juta rupiah. Tapi rupa-rupanya ketika tiba saat penandatanganan surat perjanjian, angka 3 juta ini membengkak jadi 22 juta.

Korupsi 19 juta yang sangat keterlaluan. Alasan bawahan PNS sih, untuk biaya transportasi dan akomodasi ke Bandung. Sebesar itukah biaya akomodasi dan transportasi di Bandung? Ataukah uang itu digunakan untuk pelesir karyawan sekeluarga??

Mahasiswa yang baik menolak mentah-mentah perjanjian ini. Tapi bawahan PNS terus mendesak tanpa menyerah. Bujukan dan rayuan digunakan untuk menggolkan proyekan besar ini. Ancaman pun dilontarkan dengan kata kunci "pajak" bagi pameran. Mahasiswa yang baik pun tersudut dan mencoba menggantungkan harapan pada pejabat kampus.

Bawahan PNS pun dibawa pada Kepala WRM Akademik ITB. Sayang, beliau tidak sedang berada di tempat sehingga dilimpahkan pada orang kepercayaannya. Orang terpercaya dengan inisial J ini menerima kasus dengan berlagak bijak. Saat kasus dibeberkan, tak disangka Mr.J berbisik-bisik sendiri dengan bawahan PNS. Usai berbisik-bisik, Mr.J berkata, "Biar saya saja yang menangani masalah ini." Dan, ia mengatakan kasus selesai. Uang 3 juta diberikan kepada mahasiswa yang baik. Nah, yang menjadi pertanyaan adalah : berapa bagian yang diperoleh Mr.J untuk 'menyelesaikan' kasus ini ?

Kuis: Coba jawab pertanyaan ini! Jawaban yang benar akan mendapat hadiah seru dari Ireng.
BAWAHAN PNS BERASAL DARI DEPERTEMEN PEMERINTAHAN YANG MANA????

6.22.2006

Tulisan ringan tentang Sunken Court,,,

Sunken Court, menurut penulis, adalah tempat paling strategis di kampus kalau ingin bersenang-senang. Sejak piala dunia berlangsung, Sunken Court tampak lebih hidup di malam hari. (Walaupun pada kenyataannya sunken court ini ga pernah ada matinya). Nonton bola, forsil, atau apalah diselenggarakan di sunken ini.

Sunken court adalah tempat yang cukup unit karena menjorok ke bawah tanah. Disdusun seperti kamar kos dan dinomori.Penomorannya dengan huruf E untuk yang sebelah timur dan W untuk sebelah Timur. (Kalau ada yang lupa mana GKU Barat/Timur atau Aula Barat/Timur, tidak perlu mencari matahari, tapi ke sunken saja.. xp) Orang yang lewat di depan PAU atau Perpustakaan dapat melihat keadaan sunken dengan leluasa sehingga kalau ada sesuatu, orang pasti ngeh. Misalnya kalau ada nonton bola bareng, atau kalau ada Forsil. Tidak terlalu sulit mengadakan sesuatu di sunken ini. Letaknya yang mendelep ke dalam mempermudah pemasangan lampu untuk penerangan atau layar buat nonton bola.

Untuk nonton bola misalnya. Dengan berbekal layar putih, in-focus pinjeman entah dari mana, speaker, karpet atau alas tidur, jadilah nonton barengnya. Layarnya juga bisa diatur sesuai selera, bisa di depan terowongan yang menghadirkan suasana bioskop, atau melintang di tengah supaya lebih layer tancep. Tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang mengkoordinir. Atas dasar ingin berbagi kesenangan, dengan sukarela beberapa orang memanjat sana sini untuk memasang layer dan ke sana sini untuk menggotong-gotong kabel atau speaker.Lain lagi dengan Forum Silaturahmi yang kemarin. Cukup dengan karpet digelar di tengah dan lampu sorot digantung di atas, jadilah tempat pw untuk forsil. Mau ngopi? Tinggal ambil dispenser dari salah satu unit dan jadilah kopi. Pokoknya gampang dah.

Forsil yang mengundang HMD (salah ya? sekarang kan mustinya prodi bukan departemen, tapi kalo jadi HMP ntar planologi jadi apa? Atau mau Himpro? Atau Himadi? ) diadakan di Sunken Court, daerahnya Unit. Bila kesenajngan antara Unit dan Himpunan (Himpunan aja ya, capek d mikir singkatannya) masih ada sampai sekarang, maka situasi ini dapat “mendamaikannya”. Unit dan Himpunan harus saling mendukung. Tidak ada yang lebih tinggi. Toh Unit danHimpunan sama-sama tempat untuk mengembangkan diri. Semoga untuk ke depannya, Forsil diadakan di Sunken terus. Selain eyecatching dan PW, silaturahmi antar Himpunan dan Unit bisa lebih baik dan menyenangkan.

Yang menarik lagi dari Sunken ini, toleransi antar unitnya cukup baik. Secara (halah, ini bahsa sudah menulari otak penulis,, maaf ya) unit yang ada di sunken bermacam ragam sampai saat ini belum ada keributan tingkat tinggi karena kesal satu sama lain. ( Sepengtahuan penulis sih demikian, tapi kalo mau diralat, monggo ). Contoh? Ada Unit Kendo, UKJ, KMK, Loedrok, UKSU yang suka mengunakan halaman depan unitnya utnuk latihan. Hasilnya? Hiburan gratis dong. Belum lagi Apres yang kalau latihan suaranya kenceng. Padahal di sudut ada KMB yang salah satu kegiatannya itu meditasi. Sungguh sabar sekali. Selain unit di atas masih ada lagi PSIK, Lingkar Sastra, Akarna ISEA, ARC, KMPA, UKA, UKSS (kalo ga salah), Tiang Bendera, KSEP, Majalah Ganesha, Korps Relawan, PMK, UKIR, Persma, ESC, U-jo, dan KMH. Cukup banyak bukan?

Penulis membayangkan saja, kalau sekretariat kabinet dipindah ke Sunke Court ini, tentu kepengurusannya akan lebih nyaman dan membumi. Sebenarnya sekretariat yang sekarang juga dekat dengan Unit yang lain, yaitu di genduk eks MKOR. Tapi karena pintu masuknya jauh berbeda, interaksinya juga kurang. Sekarang sekretariat OHU 2006 berada di Sunken. Forum-forum tentu akan sering diselenggarakan di sini. Jadi, untuk ke depannya pasti Sunken akan lebih ramai. Apalagi kalau kamar mandinya dibetulkan. Pasti lebih asoy-geboy. (hmm, kayaknya aga jauh ya, kamar mandi dengan OHU..T.T)

Buat anak-anak baru angkatan 2006 yang kebetulan membaca ini, jangan segan-segan main ke sunken court. Tidak usah takut karena orangnya baik-baik. Di sni kalian bisa mendapatkan apa saja yang kalian inginkan. Komik, buku, internet, hiburan, tergantung tempat yang kalin kunjungi. Kalian juga dapat menemukan pencerahan, guru pengajar Kalukulus, tempat menginap atau buku2 kuliah lungsuran grastis. Lebih bagus lagi sih kalau di sini bisa menemukan jodoh. Hore… !!

6.16.2006

Beda Kemahasiswaan Kita dengan Malaysia


Dalam suatu kesempatan saya bertemu dengan teman-teman Majlis Perwakilan Pelajar (MPP, di sini sama seperti BEM) Universiti Teknologi MARA Malaysia. 'Kongsi-kongsi' antara kami jadi semakin memperluas cakrawala pandang saya tentang kemahasiswaan.

Saya sedikit syok karena mereka-mereka ini rata-rata berumur 22 tahun, mahasiswa tahun keempat. Bisa dibayangkan betapa 'pentingnya' jabatan dalam MPP ini sehingga hanya mahasiswa yang sudah benar-benar matanglah yang bisa mewakili teman-temannya di tingkat fakultas. Sistem kemahasiswaan terpusat di Malaysia mirip seperti kampus tetangga kita, Unpad. Di sana setiap tahun dilakukan pemilihan wakil mahasiswa di tingkat Prodi, wakil dari Prodi inilah yang akan bersaing lagi di tingkat Fakultas untuk mewakili Fakultasnya. Jumlah Fakultas di UiTM tidak main-main loh! 22! Ck ck ck...

Lebih heran lagi ketika saya mendengar tentang fasilitas untuk mahasiswa. Bayangkan, ITB hanya memiliki asrama untuk kapasitas 500 orang, itu pun ada yang harus berbagi ruangan, sedangkan UiTM 25.000 ruang untuk 25.000 mahasiswa! Sampai di sini saya termenung, betapa jauh kita telah tertinggal dari Malaysia. UiTM baru berdiri pada tahun 1956, kita ITB (yang di kartu namanya Pak Djoko, red) berdiri di tahun 1950, sudah benar-benar jauh tertinggal.

Yang paling saya herankan tentunya adalah tentang keseragaman bentuk kemahasiswaan terpusat di Malaysia. Di Malaysia, semua universiti menganut sistem parlementer seperti tetangga kita Unpad, ini sudah diatur jelas di dalam undang-undang Kerajaan. Demonstrasi mahasiswa jelas dilarang, tetapi Kerajaan memberikan saluran untuk penyampaian aspirasi mahasiswa. Setahun sekali MPP-MPP berkumpul dalam suatu musyawarah besar yang berjudul Majlis Perwakilan Pelajar Pengikat Kebangsaaan (MPPPK)untuk membahas isu-isu kampus, nasional, dan internasional. Hasil Mubes itu selanjutnya dapat diajukan sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakannya. Mubes ini juga mempunyai kekuatan hukum karena diatur dan diakui di dalam undang-undang Kerajaan.

Jelas sudah kekurangn kita dibandingkan Malaysia, kekurangan kita terletak pada sistem. Mahasiswa ditekan untuk tidak melakukan demonstrasi, tetapi tidak diberikan saluran lain untuk menyalurkan aspirasinya. Satu lagi catatan, ternyata di UiTM juga ada minggu orientasi seperti OSKM. Jadi siapa bilang kaderisasi buruk? Sayang tidak ada waktu yang cukup untuk menanyakan bagaimana minggu orientasi di UiTM. Yang jelas tidak ada acara meneriakkan Salam Ganesha.

6.08.2006

Pernyataan Blunder Sang Rektor

Ada sebuah pernyataan yang jika didengar oleh para mahasiwa aktivis (tergantung aktivis dari golongan mana dulu, red) bisa jadi merupakan pemicu untuk gerakan anti-Djoko, dan gerakan 'Ayo turunkan Djoko!'.

Waktu itu (8/6) saya sedang meliput penandatanganan MoU antara Yayasan Bhakti Tanoto dengan ITB yang bertempat ruang rapat pimpinan CCAR. Dalam konferensi pers yang cuma 15 menit itu, Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc. (gelar disebut lengkap untuk menghormati beliau, red) selaku Rektor ITB menjelaskan tentang betapa ITB berharap dengan kerjasama semacam ini bla bla bla bla. Tiba-tiba topik beralih menjadi masalah sampah di kota Bandung. Bapak Rektor pun sedikit curhat.

"Saya memang tidak suka ngomong banyak, yang penting kerja. Masalah sampah yang kemarin pun demikian. Walikota sempat tuding-tuding ke ITB, saya diam saja. Dihujat sama media kayak Media Indonesia, apa lagi, Metro TV, saya diam saja. Suatu saat saya sudah mangkel, akhirnya kita buat surat bantahan ke media-media itu. Tentunya dengan bahasa yang sopan. Lha wong saya ini cuma kepala sekolah kok, apa salah saya? Ada sampah di sekeliling sekolah saya. Kalau ada sampah di dalam halaman sekolah saya, nah itu urusan saya."

Pernyataan yang kurang arif dari seorang akademisi, yang seharusnya menyadari perannya untuk mengabdi kepada masyarakat. ITB (baca: Rektor, red) seharusnya menyadari bahwa ia memiliki tanggung jawab sekaligus peran yang sangat besar untuk mengabdi kepada masyarakat. ITB itu abdi bangsa, abdi rakyat, abdi masyarakat, abdi dunia. Bukan abdi industri, abdi kapitalis.

Berikut saya kutip visi ITB untuk renungan.

Visi ITB-BHMN adalah menjadi institusi perguruan tinggi dan pusat pengembangan ilmu, teknologi, dan seni yang unggul, handal, dan bermartabat di dunia, yang bersama dengan institusi nasional terkemuka lain mampu menghantarkan masyarakat Indonesia menjadi bangsa yang bersatu, berdaulat, dan sejahtera.

6.07.2006

Mentalitas Bemper

Mentalitas Bemper

Kamis, 25 Mei 2006 adalah Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus. Satu hari libur yang "nyempil" ini membuat efek "harpitnas" (baca: hari kejepit nasional) bagi hari Jumat, 26 Mei 2006. Dan lagi-lagi seperti biasa kemudian dilakukanlah "peliburan" terhadap hari Jumat keesokan harinya. Model-model "peliburan" hari-hari dengan status Harpitnas semacam ini mulai berkembang semenjak pemerintahannya Pak SBY (maap ya pak, tapi kenyataannya gitu.. sok atuh refleksi diri). Alasannya memang luar biasa membuat geli: "Wong kejepit kok, nanggung. Daripada nanti pada gak masuk, mending diliburin sekalian tho!" Ironisnya, mentalitas macam ini dikembangkan oleh para Pegawai Negri Sipil (maap ye, tapi itu kenyataannya.. sok refleksi diri).

Hal itu adalah salah satu contoh baru mentalitas bemper bangsa Indonesia. Mentalitas bemper adalah istilah yang aku ciptakan untuk me-refer sikap dan pola pikir bangsa Indonesia yang suka "menambahi bemper" ketimbang memperbaiki kinerja. Begini, mari kita ambil contoh masalah harpitnas ini. Masalah harpitnas sebenarnya dapat diselesaikan dengan memperbaiki sistem pengawasan terhadap bawahan agar tetap masuk kerja walaupun Harpitnas atau membuat mekanisme sehingga bawahan dengan senyum lebar mau masuk kerja walaupun hari itu adalah Harpitnas. Tapi bukannya melakukan solusi yang lebih baik semacam itu, yang dilakukan bangsa ini adalah "menambah bemper" dengan meliburkan sekalian Harpitnas. Gendeng.

Contoh mentalitas bemper ini bertebaran gak keruan di seluruh penjuru nusantara ini. Berikut ini contohnya:

1. Lampu lalu lintas
mungkin expat yang mampir ke Indonesia bakal bingung nan geli karena untuk satu arah saja minimal ada empat tiang lampu lalu lintas di republik ini (setidaknya di Jakarta dan Bandung dan Jogyakarta). Empat tiang itu umumnya konfigurasinya adalah dua di tepi ujung jalan arah tersebut dan dua di ujung seberang jalan.

Dua lampu lalu lintas di ujung seberang jalan itu sebenarnya gak perlu. Namun karena pengguna lalu lintas di Indonesia -TERUTAMA- para motor itu sering berhenti melewati batas yang ditentukan (dibelakang garis zebra cross), maka dua tiang itu kemudian ditambahkan agar para pelanggar lalu lintas ini tetap dapat memonitor lampu lalu lintas.

Jadi bukannya memperbaiki sistem pengawasan terhadap mereka berhenti di atas atau di depan zebra cross, malahan kita (baca: bangsa Indonesia) "menambahkan bemper" yaitu memasang lampu lalu lintas di ujung seberang jalan sehingga para pelanggar itu bisa tetap nyaman.

2. Jadwal Kereta Api
Dulu waktu aku tingkat satu dan dua, kalau pulang ke Jakarta, aku selalu naik KA Parahyangan. Fenomena yang selalu terjadi adalah kereta telat. Umumnya telatnya itu hingga 20-45 menit melebihi waktu tempuh seharusnya yaitu tiga jam.

Karena rutin pulang dengan Parahyangan aku bisa mencermati jumlah menit telatnya. Namun, suatu saat (entah kapan) tau-tau Parahyangan itu gak telat. "Kok tumben, tepat waktu?" (maap pikiranku udah pesimistis gini..) Segera saja aku cek di lembar tiket Parahyangan. Dan percaya atau tidak, waktu tempuh yang biasanya adalah 3 jam dibuat menjadi 3 jam 45 menit. HAHAHA.... Makanya gak telat.. wong waktu tempuhnya ditambahi "bemper" sebanyak 45 menit.

Coba perhatikan di sekeliling kalian. Pasti bakal nemuin model-model mentalitas bemper semacam ini, mentalitas yang memberikan solusi yang tampak -sekilas- baik tapi sebenarnya murahan dan sama sekali gak menyelesaikan masalah. Sedih ya...

krisna