5.23.2006

Intelektualitas dan perilaku

Journee Francaise kemarin memberikan saya kesimpulan: intelektualitas tidak berbanding lurus dengan perilaku. Kesimpulan ini saya peroleh ketika saya datang ke acara tersebut untuk meliputnya.

Tepat jam 12 siang stan-stan makan siang gratis dibuka. Maka saya mengantri di salah satu stan, pattiserie. Saya sudah 1 tahun menggunakan kereta api sebagai transportasi saya sehari-hari untuk pulang pergi ke kampus. Tetapi kebrutalan para pengantri pada acara kemarin-yang notabene semua adalah mahasiswa ITB-mengalahkan kebrutalan penumpang kereta api kelas kambing yang hendak naik.

Kesan buruk kedua saya dapatkan ketika saya mengantri di stan waffles. Sampah-sampah berserakan di sekitar stan tersebut, tali rafia yang sedianya menjadi pembatas bagi antrian dan tanda agar para pengantri tidak menginjak rumput, semua rusak oleh kelakuan para mahasiswa yang melompati tali-tali rafia tersebut.

Sedikit ironis karena hari itu-20 Mei-adalah hari kebangkitan nasional. Saya jadi berpikir, inikah refleksi kita pada hari kebangkitan nasional? Menghambur-hamburkan makanan (saya melihat buah-buahan, salad, dsb. tidak dimakan habis, bahkan masih utuh, berserakan di amphiteater lapangan basket CC), melanggar peraturan (saya melihat seorang mahasiswa dengan santainya duduk di atas rumput, sedangkan satpam yang jelas-jelas berada di hadapannya hanya diam 'menikmati acara'.), berkelakuan primitif (saya tidak tahu apa sebutan bagi membuang sampah sembarangan saat si pembuang sampah itu adalah mahasiswa ITB-universitas dengan seleksi terketat di Indonesia, yang seharusnya menunjukkan kualitas terbaik pula, baik dari segi akademik, maupun perilaku).

Nevertheless, acara itu memang sebuah kesuksesan. Selamat bagi panitia, dan selamat bagi para pemenang handhone dari Alcatel. :)

cerita kecil tentang campus centre

Kalo teman-teman memperhatikan campus center ketika acara JF kemaren digelar, lantai 2 nya digunakan sebagai cocktail room untuk orang-orang Prancisnya. Jelas, tidak bisa dimasuki sembarang orang. Sementara di lantai bawahnya, para pengunjung (yang kebanyakan mahasiswa) ramai-ramai mengantri makanan.

Kalau mengingat sejarah ITB, CC ini dulunya kan adalah student cntre. "Istana"nya mahasiswa. "Kekuasaannya" mahasiswa. Sedang kemarin, di tempat yang sama, kekuasaan itu hilang sudah. CC adalah milik "yang berduit".. Ada yang "ngeh" ga?

Ngomong-ngomong, seharusnya, CC sekarang sudah diisi dengan unit dan KM serta Kabinet. Tapi masih kosong melompong lo....

-no comment-

sampah dan (civitas academica) itb

Seperti yang sudah diketahui dari televisi dan koran, Bandung sedang menjadi lautan sampah (lagi). Salah satu TPS yang paling 'heboh' sampahnya terletak tepat di sebelah barat kampus ITB. TPS Tamansari.

Ironi sebenarnya. ITB memiliki program studi Teknik Lingkungan, dan teknik-teknik lainnya yang mendukung. Tapi ternyata permasalahan sampah di ITB sendiri masih belum dapat diselesaikan. Seharusnya, lingkungan di sekitar ITB dapat merasakan dampak dari pengetahuan yang ada. Tapi ternyata, tidak ada bedanya keadn sampah di daerah lain dengan daerah di dekat kampus ITB. Seharusnya, ITB merasa malu ya,,

Sebuah argumen dikeluarkan. 'Itu kan tanggung jawab pemkot Bandung, bukan tanggung jawab kampus.' Tapi argumen itu sepertinya baru relevan dikeluarkan bila ITB sudah bisa memberikan contoh yang baik tentang bagaimana mengolah sampah. Kenyataannya, lingkungan dlam ITB tidak lebih baik dari lingkungan luar.

Baru-baru ini dibentuk satgas kebersihan ITB. Harusnya sih, anggotanya dari semua unit dan HMDyang ada di ITB. Tapi di pertemuan perdananya, yang hadir kok cuma sedikit yak,,, tidak samapi 10 orang. Padahal pertemuannya itu untuk membicarakan kerja bakti yang akan diselenggarakan besoknay di jalan tamansari dan gelap nyawang.

Alasannya sih, publikasi yang kurang, pemberitahuan mendadak..
padahal kan kerja bakti ini bisa jadi ajang kepedulian ITB.. Orang jadi bisa liat kalo ITB juga peduli.. Undangan ajakan kerja bakti itu dikirim oleh RT tamansari sepertinya. saya kurang ingat. Dan dialamatkan ke Sarana Prasarana ITB. Sepertinya setelah itu diserahkan ke mahasiswa,, Sayang sekali. Padahal momen itu seharusnya kan bisa jadi pemersatu ITB ya. Mau dosen atau mahasiswa, kan judulnya sama2 dari ITB.

Ada satu hal menarik yang bisa dilihat di sini. tugas, ujian, kegiatan2 akademik baik yang dilakukan oleh dosen mau pun mahasiswa seringkali dijadikan tameng bila para civitas academica ITB ini dihadapkan pada masalah2 real di masyarakat. Salah satunya masalah sampah ini. Harus ada yang dibenahi sepertinya. Tapi bagian mana ya? Sistempendidikan? Komunikasi antar ITB dengan masyarakat luas? atau mananya?

Satu hal yang saya yakini, seharusnya masyarakat di sekitar ITB lebih bahagia karena di dekat mereka ada sekumpulan orang-orang terpilih yang memiliki intelektualitas di atas rata2...

5.17.2006

Peresmian blog Kantor Berita ITB

Kini kantor berita udh memiliki blognya sendiri. Ini akan menjadi tempat secondary opinion dan berita yang tidak bisa dimasukkan ke www.itb.ac.id.

Semoga dapat dinikmati.



Salam,

Kantor Berita ITB