11.06.2006

Seminar Setengah Hari Mengenai Cyberjournalism

Seminar Setengah Hari Mengenai Cyberjournalism

WEBSITE: PUBLIC INFORMATION SHARING & CYBERJOURNALISM “Mengembangkan
Konten dan Penampilan Situs Organisasi” bertujuan untuk memberi wawasan
kepada lembaga serta organisasi di lingkungan ITB akan pentingnya
keberadaan situs organisasi di era tekonologi informasi ini.

WEBSITE: PUBLIC INFORMATION SHARING & CYBERJOURNALISM “Mengembangkan
Konten dan Penampilan Situs Organisasi” bertujuan untuk juga sekaligus
mempromosikan dan menyosialisasikan Kantor Berita ITB kepada segenap
lembaga dan organisasi di lingkungan ITB, baik lembaga rektorat maupun
lembaga mahasiswa.

WAKTU
Sabtu, 18 November 2006
Pukul 09.00-13.00 WIB

TEMPAT
Ruang Auditorium Campus Center ITB
Jalan Ganesha 10 Bandung 40132

PENDAFTARAN
Rp 15.000 Mahasiswa
Rp 25.000 Non-mahasiswa

MATERI
“Mewujudkan Smart Campus ITB dan masyarakat ITB melek ICT” oleh Armein Z.
R. Langi, Kepala Pusat Peneliitian Teknologi Informasi dan Komunikasi,
Mantan Kepala USDI ITB
“Jaringan ITB dan Peran USDI” oleh Basuki Suhardiman, Kepala USDI ITB
“Cyberjournalism” oleh Priyambodo H., Redaktur Kantor Berita ANTARA
“Blog dan Citizen Journalism” oleh Budi Rahardjo, Akademisi dan Pengamat
Teknologi Informasi
“Membangun dan Mengelola Web Organisasi” oleh Tim Webmaster ITB
“Kantor Berita ITB” oleh Krisna Murti, Kepala Kantor Berita ITB

Diselenggarakan oleh Kantor Berita ITB

8.26.2006

Anggaran Buku ITB Masih Sangat Minim

Sebuah rancangan Undang-undang (RUU) mengenai buku tengah digarap oleh pemerintah. Draft RUU ini sebenarnya sudah bisa dilihat melalui internet. RUU tentang buku ini berjudul Rancangan Undang-Undang Sistem Perbukuan Nasional. Hhal-hal yang berkaitan dengan buku teks pelajaran atau buku untuk kegiatan pendidikan seperti penyusunan, penerbitan dan distribusi turut tercantum dalam RUU ini.

Berhubungan dengan buku teks pelajaran, dua ayat yang patut kita perhatikan di sini ialah :
BAB VIII
PENYALURAN DAN PERDAGANGAN BUKU
Bagian Kedua
Jalur dan Penyaluran Buku
Pasal 26
>(5)Perguruan tinggi wajib menyediakan buku untuk
> perpustakaan.
>
> (6)Badan hukum pendidikan penyelenggara satuan
> pendidikan tinggi wajib menyediakan dana paling
> sedikit 5% (lima) persen dari anggaran perguruan
> tinggi untuk pengadaan buku perpustakaan

Jika kita mengacu pada dana yang dikeluarkan oleh Perpustakaan ITB dalam belanja buku, dana yang dikeluarkan untuk pengadaan buku ini belum sampai 5 % dari anggaran ITB. Dana belanja buku yang dikeluarkan oleh Perpustakaan ITB setiap tahunnya hanya berkisar 100 juta rupiah. Nilai ini tentu saja sangat jauh dari 5 % anggaran ITB yang mungkin lebih dari miliaran rupiah.

Hal ini tentu sangat kita sayangkan, perguruan tinggi sekelas ITB yang sudah masuk ranking perguruan tinggi terbaik dunia ini kekurangan buku. Kecanggihan teknologi yang sangat pesat saat ini tentu membuat arti buku semakin kecil. Padahal, buku merupakan cetakan nyata yang berisi intisari pemikiran-pemikiran yang telah diakui. Buah pikiran tidak akan diakui khalayak umum, jika tidak dimuat dalam bentuk buku. Lagipula, skripsi dan tesis masih membutuhkan buku teks sebagai rujukan, bukan alamat internet. Kebanyakan mahasiswa tidak mampu berlangganan jurnal online dan teori dalam buku lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Mungkin para pejabat ITB harus menengok sedikit pada RUU ini karena peranan buku dalam kegiatan pendidikan sangatlah besar. Selain itu, anggaran buku senilai 5 % dari anggaran perguruan tinggi juga tercantum dalam Buku Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Perguruan Tinggi yang dikeluarkan oleh Dirjen Dikti. ITB memang sudah menapaki teknologi yang mutakhir, tapi keberadaan buku juga tidak dapat ditinggalkan begitu saja.

8.25.2006

sebuah pemikiran untuk 2006

Pengekangan hak untuk melakukan apa yang ingin kita lakukan itu terselubung dengan rapih. Ditulis dengan bahasa yang baku, dan dikemas dengan format sebuah surat keputusan, lengkap dengan nomor dan tandatangan. Diperbanyak, kemudian dibagikan di sidang terbuka penerimaan mahasiswa baru. Ancaman itu pun tidak terlihat sebagai ancaman, hanya sekedar peraturan yang memang biasa dijumpai dalam sebuah institut.

Mahasiswa baru tidak boleh mengikuti kegiatan OSKM karena kegiatan ini tidak disetujui oleh pihak rektorat. Kegiatan OSKM tidak disetujui karena kegiatan semacam ini membuka peluang terjadinya perpeloncoan dan mengganggu persiapan mahasiswa baru untuk mempersiapkan hari pertama kuliah mereka. Kegiatan OSKM juga masih membawa paradigma bahwa mahasiswa baru ini belum sebenarnya mahasiswa, padahal ketika mahasiswa baru sudah diterima di ITB dan disahkan memalui sidang terbuka, status mahasiswa sah didapatkan mahasiswa baru. Namun dengan kegiatan OSKM, kesan akan masuknya mahasiswa baru ke dalam suatu lembaga baru dapat diberikan dengan cara menurut mahasiswa. Dengan kretifitas dan imajinasi mahasiswa, yang tentu saja berbeda dengan pihak rektorat, seperti performance art, yel-yel, salam ganesha atau hal-hal lain yang membuat semua mahasiswa baru merasa bersatu.

Bila bicara masalah idealisme dan nilai-nilai dalam OSKM, tentu masalah ini tidak akan selesai dibahas. Tetapi menurut penulis, masalah utama dalam OSKM ini bukan lagi siapa yang paling benar, tapi penghargaan akan hak untuk melakukan apa yang ingin kita lakukan.

Penyebaran surat edaran yang melarang mahasiswa 2006 untuk mengikuti OSKM dan ancaman DO bagi yang masih bandel, bagi penulis, adalah sebuah penghinaan halus bagi mahasiswa 2006. Penghinaan karena mahasiswa baru seolah-olah masih belum cukup dewasa untuk memilih kegiatan apa yang baik untuk mereka. Penghinaan karena sebagai seorang calon mahasiswa mereka seolah-olah tidak tahu bagaimana mempersiapkan diri untuk kuliah, sampai-sampai dikeluarkan SK untuk melarang mereka ikut OSKM agar mereka mempersiapkan diri untuk kuliah. Penulis sempat berpikir, mengapa SK yang melarang mahasiswa baru untuk jalan-jalan ke mall, ke tempat wisata, jalan-jalan bersama keluarga, atau kegiatan lain pada tanggal 20-21 Agustus yang dalam pelaksanaannya tidak mendapat ijin resmi dari ITB tidak sekalian dikeluarkan.

Ini baru awal masuk kuliah. Ketika kuliah nanti, kegiatan non akademik seperti OSKM akan banyak kalian jumpai. Kegiatan di lingkungan rumah, tempat ibadah, yang tentunya juga tidak mendapat persetujuan dari pihak ITB, ataupun kegiatan resmi yang berada di luar jam kuliah ada di mana-mana. Apakah kalian butuh SK untuk menentukan apakah kalian akan ikut atau tidak? Atau apakah ketika keluar sebuah SK yang melarang kalian berkegiatan di luar kegiatan akademik dengan ancaman DO, kalian akan langsung mundur meskipun kalian tahu bahwa kegiatan itu tidak akan menganggu akademik kalian?

Pelanggaran hak asasi manusia telah terjadi. Mahasiswa baru, seorang individu utuh, seolah-olah tidak boleh memutuskan apa yang ingin mereka lakukan Pihak rekotrat dengan ancaman DO nya telah melakukan intimidasi yang jauh lebih kejam dari pada intimidasi dalam OS himpunan yang selama ini diributkan oleh pihak rektorat sendiri. Intimidasi intelektulaitas..

Ancaman dan pengekangan masih akan ada di mana-mana. Baik dari rektorat atau malah dari sesama organisasi mahasiswa. Apalgi dengan contoh yang diberikan oleh rektorat di OSKM ini, sangat mungkin kelak akan ditiru oleh mahasiswanyab sendiri.

Yang lalu biarlah berlalu, toh kalian sudah memilih jalan masing-masing. Ada yang merasa puas dengan keputusannya, ada yang menyesal. Waktu yang tersisa masih panjang.

Jangan takut!! Jangan takut terhadap peraturan bila kalian merasa itu tidak benar. Jangan takut membangkang bila kalian punya argumen jelas dan kuat. Jangan takut menggunakan logika dan kekritisan kalian. Karena keadilan hanya ada untuk mereka yang memperjuangkannya.


gitaditya

6.29.2006

Re: PNS=Koruptor Sejati

Berikut adalah klarifikasi dari Kepala Biro Kemahasiswaan ITB, Djadji Satira. Masalah yang muncul dari blog diselesaikan di blog juga. Klarifikasi ini dihadirkan to cover both-side of the problem. Di luar itu, pengasuh dan kontributor blog mohon maaf apabila ada pihak yang merasa tersinggung atau merasa mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari posting yang dirilis di blog ini. Sambil berusaha memperbaiki etika penulisan dan pengutamaan fakta, pengasuh dan kontributor blog mengajak semua pihak untuk memahami hakekat blog sebagai media tidak resmi dalam penyampaian informasi maupun pendapat. Terimakasih.



Asallammu Alakum Wr Wb.

Semoga berita ini dapat menyadarkan pihak-pihak yang terkait.
Saya yang tidak berpredikat (Dosen), sangat sedih dan prihatin membaca
opini mahasiswa di (Kantor Berita ITB)? kabarnya masuk juga ke milis
Dosen.

Soalnya adalah (sebagai mahasiswa)SITH d/h Panitia Bio Expo telah merilis
berita yang menurut saya sangat tidak pantas melibatkan Mr. J untuk PNS =
Koruptor Sejati.

Dalam kasus dengan PNS (Dirjen Industri Agro dan Kimia Deperin) mestinya
Panitia Bio Expo berterima kasih kepada Mr. J (Penulis adalah : Jaji S.
Satira, Ka. Biro Kemahasiswaan) yang menjelang magrib saat itu, Panitia
nampak panik karena persoalan kuitansi dengan PNS tersebut tidak cepat
selesai, bahkan saya menangkap kesan (2 pihak sesama batak tidak ada yang
mau mengalah) lantas Panitia mau minta tolong WRM untuk memberi bantuan
penyelesaiannya. Saya sendiri Kepala Biro Kemahasiswaan (Apakah sesuai dg
Mr. J yang dimaksud) Pemegang mandat atas kewenangan WRM untuk membantu
menyelesaikan masalah mahasiswa (Panitia Bio Expo dengan PNS Deperin
tadi).

Kwitansi yang dipermasalahkan adalah biaya 2 stand pameran @ Rp 3 juta,
untuk kepentingan pertanggungjawaban uang DIP (di kantornya) sudah saya
selesaikan dengan cara yang sesuai dengan aturan petanggungjawaban yang
diminta.
Di depan saya, saat itu kedua belah pihak merasa tuntas permasalahannya,
dan beres, namun belakangan ini di milis (Kantor Berita ITB), muncul
nilai uang Rp 22 juta, yang sama sekali saat itu tidak disinggung saat
itu.

Saya (Mr. J...?) Kepala Biro Kemahasiswaan yang menuntaskannya sama sekali
tidak menangkap isyarat baik dari Panitia Bio Expo maupun PNS Deperin tsb
tentang sejumlah uang (22 juta atau 19 juta)

Berita tersebut berkonotasi dan Tendensius, karena mengarahkan pada
presepsi orang bahwa Mr. J, turut bersekongkol (merampok uang mahasiswa ?)

Rasanya saya masih memiliki hati nurani, apalagi keterlibatan saya disitu
karena mendapat tugas dari WRM untuk menuntaskan masalah. soal seperti
itu masalah kecil, tapi yang dirilis oleh seorang Intelektual, dan di
lingkungan inteletual harus diluruskan, (ini menyangkut nama baik)jangan
sampai wahana dengan teknologi ini hanya diisi oleh info dan gosip
murahan.

Setidaknya, Panitia Bio Expo melalui (Kantor Berita ITB) dan milis dosen
dapat meminta maaf kepada(Mr. J yang dimaksud) yang merasa di fitnah. Anda
keji.

Billahi taofiq wal hidayah
Wassalammualaikum wr. wb.
(Djadji S Satira /Kepala Biro Kemahasiswaan)

6.28.2006

KLARIFIKASI

Dengan ini saya selaku penulis tulisan berjudul "Kuis Edisi Spesial" memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan penempatan tulisan tersebut. Tulisan tersebut sebenarnya merupakan tulisan opini, bukan berita. Saya menulisnya berdasarkan keterangan dari pihak ketiga. Tulisan pada dua alinea terakhir pun merupakan asumsi semata.
Berita yang benar ialah sebuah instansi pemerintah telah melakukan mark-up dana stand BioExpo. Keterangan-keterangan dari para saksi mata telah diklarifikasi dan hal tersebut telah dibenarkan. Adapun,eterlibatan pihak ITB dalam hal ini sebagai penengah permasalahan. Pihak ITB telah membantu mentuntaskan permasalahan.
Saya meminta maaf kepada seluruh pihak-pihak yang terkait. Semuanya bersumber atas keteledoran dan kekhilafan pribadi penulis.


-Ireng-

Forsil Edisi Spesial : OSKM, Apalah Arti Sebuah Nama,,,??

Salah satu forum yang akrab di kemahasiswaan ITB adalah Forum Silaturahmi (Forsil). Forum ini dihadiri oleh Himpunan-himpunan yang ada di ITB . Tujuannya? Sejauh ini ya saling berbagi cerita. Bisa soal masalah atau kejadian aktual di himpunan masing-masing, atau maaslah yang sedag hangat di kampus.

Forsil edisi kali ini, edisi Senin 27 Juni 2006, membahas tentang Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa. Yang satang cukup banyak. Hanya satu Himpunan yang berhalangan hadir, dan salah satu "Bapak" kita, Bapa Djaji, ikut hadir dalam Forsil ini. Spesial bukan?

Salah satu masalah yang dibahas di Forsil ini, yang penulis rasa cukup menarik untuk ditulis. adalah mengenai permintaan penggantian nama OSKM dari pihak rektorat. Mengapa menarik? Pak Djaji mengemukakan alasan bahwa kata "OS" sudah memiliki konotasi yang sangat negative. Sama seperti orang tua yang memberikan nama tertentu dengan harapan anaknya akan sebaik namanya, demikian juga dengan OS. Bila diberi nama lain yang tidak mengandung "OS", tentu diharapkan hasilnya lebih baik, sebaik nama barunya. Nama baru yang dimaksud beliau adalah Pengenalan Satuan Akademik dan Organisasi Kemahasiswaan (PSA-OK, penulis lebih suka menyebutnya pe-es-a-o-ke ). Beliau mengakui bahwa alasan ini tidak ada dasar ilmiahnya, namun demikianlah kondisi masyarakat sekarang. Alasan lain yang dipakai adalah bahwa orientasi itu dilakukan sebelum masuk ke ITB. Kalau sudah masuk, ya orientasi ini tidak perlu lagi.

Sebenarnya ada alasan lain yang lebih ilmiah, walau belum cukup kuat, untuk mengganti nama OSKM ini. Tapi bila alasan ini yang ditekankan, rasanya terlihat lebih "indah". Seranglah OSKM berdasarkan pengertian katanya. Sebenarnya sudah digunakan oleh rektorat dengan kata orientasi, tapi sayang tidak tepat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, orientasi adalah peninjauan utnuk menentukan mana yang baik dan yang buruk. Kalau dilihat dari pengertian ini, OSKM sah-sah saja. Ketika sudah masuk kampus, peninjauan diperlukan. Bukan hanya peninjauan harga kamar kos atau jurusan, tapi juga jenis-jenis "pergaulan" di kampusyang bisa terlihat di OSKM. Selain itu, di KBBI tidak ada pengertian bahwa orientasi harus diakhiri dengan memilih, melainkan menilai. Jadi kalau sudah masuk ITB, orientasi masih sah dilakukan.

Celakanya, di belakang kata orientasi pada OSKM, ada kata studi. Menurut KBBI, studi adalah kegiatan belajar ilmiah. "Orientasi studi tidak perlu dilakukan lagi bila sudah diterima di ITB" akan menjadi pernyataan benar bila studi di sini diartikan sebagai kegiatan belajar mengajar di kelas. Namun bila ditelaah lagi, kata studi memiliki arti yang lebih dari itu, tergantung konteksnya. Studi memang berbau ilmiah, tetapi apakah semua yang ilmiah harus melulu ada di dalam kelas? Apakah studi tidak mencakup pembelajaran mengenai ilmu-ilmu kehidupan yang didapat dari unit atau himpunan? Bisa ya dan tidak tergantung referensi masing-masing pihak.

Namun, karena alasan yang diktekankan Pak Djaj adalah asumsi orang luar akan kata OSKM, maka banya celah yang dapat diapkai untuk menumbangkan permintaan ini. Di Forsil ini, semua celah dipakai oleh beberapa orang. Masyarakat mana yang memberi kesan negatif pada OSKM? Orang tua mahasiswakah? Kenyataannya, ketua IOM setuju dengan acara penyambutan mahasiswa baru. Atau ini hanya asumsi saja? Lagipula, apakah semua orang mengerti apa itu OSKM? OSKM sepertinya hanya dipakai di ITB karena setiap perguruan tinggi memiliki nama khas untuk OS nya masing-masing. Apakah pergantian nama ini akan memberikan dampak yang sangat signifikan? Kalau memang konotasinya jelek karena kasus-kasus terdahulu, kenapa tidak diputihkan saja?Undang media massa untuk menyaksikan OSKM ITB sebagai bukti bahwa kesan negatif itu tidak benar.

Masih banyak argumen-argumen lain yang dikeluarkan oleh mahasiswa. Pak Djaji sendiri tetap menekankan masalah image sebagai alasan utama penggantian nama. Beliau juga memohon pada peserta forum malam itu untuk tidak menekan beliau untuk "menjanjikan" sesuatu malam itu karena situasinya tidak tepat. Terlepas dari itu, sebelum namaOSKM diganti, nampaknya sulit mengharapkan kelegalan dari rektorat.

Penulis yakin, baik rektorat maupun mahasiswa adalah sama inteleknya. Jadi bila salah satu dapat menjabarkan alasan masing-masing secara jelas dan bukan hanya sekedar asumsi, tentu keduanya harus mau menerima. Permintaan penggantian nama OSKM sangat relevan bila alasan yang diberikan mencerdaskan mahasiswa. Mahasiswa juga berhak mempertahankan nama OSKM bila ada argumen dan komitmen yang diberikan memajukan dunia kemahasiswaan ITB sendiri. Kunci penyelesaiannya? Sama-sama belajar dan menghargai.

Gita

6.27.2006

Verifikasi Fungsi Blog Ini

http://kantorberitaitb.blogspot.com adalah URL blog Kantor Berita ITB. Segala posting yang di-publish di sini bukan tanggung jawab ITB sebagai institusi pendidikan di Indonesia, melainkan opini-opini pribadi dari para kontributornya. Tidak ada satu posting pun yang menjadi berita valid tentang ITB. Sumber berita ITB yang terpercaya hanya ada di www.itb.ac.id.

Bagaimanapun juga, blog adalah sarana dan media untuk berekspresi dan mengeluarkan pendapat. Adakalanya suatu informasi dapat menjadi konsumsi publik, tetapi tidak wajar disampaikan melalui official website. Inilah fungsi blog ini. Blog ini ada sebagai sarana berbagi informasi. Hak untuk memberi dan mendapatkan informasi adalah hak asasi semua orang.

Adapun terkait dengan posting terakhir yang sempat memicu gejolak, dalam waktu singkat klarifikasi dari pihak-pihak terkait akan di-publish di sini. Terima kasih.

6.23.2006

Kuis Edisi Spesial

Korupsi bukanlah hal yang asing lagi di negara kita. Bahkan sepertinya bukanlah hal yang tabu untuk mempraktikan hal ini di dunia kemahasiswaan. Teman-teman kita dari Nymphaea sudah merasakannya. Uang pembayaran stand pameran BioExpo bikinan Himpunan Biologi SITH ITB contohnya, berhasil “dibajak”juga.

Dengan prosedur resmi, mendatangi departemen terkait, mengajukan proposal, Nymphaeae berhasil mendapatkan dana untuk stand sebesar 3 juta rupiah. Tapi rupa-rupanya ketika tiba saat penandatanganan surat perjanjian, angka 3 juta ini membengkak jadi 22 juta.

Korupsi 19 juta yang sangat keterlaluan. Alasan bawahan PNS sih, untuk biaya transportasi dan akomodasi ke Bandung. Sebesar itukah biaya akomodasi dan transportasi di Bandung? Ataukah uang itu digunakan untuk pelesir karyawan sekeluarga??

Mahasiswa yang baik menolak mentah-mentah perjanjian ini. Tapi bawahan PNS terus mendesak tanpa menyerah. Bujukan dan rayuan digunakan untuk menggolkan proyekan besar ini. Ancaman pun dilontarkan dengan kata kunci "pajak" bagi pameran. Mahasiswa yang baik pun tersudut dan mencoba menggantungkan harapan pada pejabat kampus.

Bawahan PNS pun dibawa pada Kepala WRM Akademik ITB. Sayang, beliau tidak sedang berada di tempat sehingga dilimpahkan pada orang kepercayaannya. Orang terpercaya dengan inisial J ini menerima kasus dengan berlagak bijak. Saat kasus dibeberkan, tak disangka Mr.J berbisik-bisik sendiri dengan bawahan PNS. Usai berbisik-bisik, Mr.J berkata, "Biar saya saja yang menangani masalah ini." Dan, ia mengatakan kasus selesai. Uang 3 juta diberikan kepada mahasiswa yang baik. Nah, yang menjadi pertanyaan adalah : berapa bagian yang diperoleh Mr.J untuk 'menyelesaikan' kasus ini ?

Kuis: Coba jawab pertanyaan ini! Jawaban yang benar akan mendapat hadiah seru dari Ireng.
BAWAHAN PNS BERASAL DARI DEPERTEMEN PEMERINTAHAN YANG MANA????